BPBD Jatim Perketat Pemantauan Karhutla di Bromo, Andalkan Aplikasi SiPongi

News378 Dilihat

INDOUPTODATE.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengandalkan aplikasi Sistem Pemantauan Karhutla dan Informasi (SiPongi) milik Kementerian Kehutanan untuk memantau kemunculan titik api sebagai bagian dari upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Bromo dan sekitarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan data titik api yang terdeteksi melalui SiPongi tetap harus diverifikasi langsung di lapangan. Pasalnya, kemunculan titik panas pada sistem pemantauan belum tentu menunjukkan adanya kebakaran hutan.

“Dengan adanya SiPongi tersebut, kami juga harus memastikan wilayah tersebut apakah memang benar-benar terbakar hutannya atau kebakaran tersebut karena sampah yang dibersihkan oleh warga atau lahan akibat hasil panen yang dibakar,” kata Gatot, Kamis (8/10/2026).

Menurut Gatot, proses verifikasi menjadi penting karena kawasan Bromo memiliki wilayah yang cukup luas. Kondisi tersebut membuat seluruh kawasan tidak mudah dijangkau hanya melalui patroli lapangan.

Selain pemantauan melalui SiPongi, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) juga melakukan patroli secara berkala untuk mengantisipasi munculnya titik api dan potensi kebakaran hutan maupun lahan.

Gatot mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika melakukan aktivitas pembakaran sampah maupun pembersihan lahan dengan menggunakan api. Masyarakat diminta memastikan api dan bara benar-benar padam setelah aktivitas selesai.

Imbauan tersebut semakin penting ketika kondisi angin cukup kencang. Bara api yang terlihat kecil dapat terbawa angin dan menyebar ke area yang memiliki banyak material mudah terbakar, seperti ilalang dan kayu kering.

“Jangan sampai bara terbawa ke suatu tempat, di situ ternyata sumber bahan bakunya banyak, ilalang kering dan bahan kayu yang kering banyak. Ini bisa menjadi penyebab dari bara kecil tadi membakar area-area yang rentan kebakaran,” ujarnya.

READ  Bromo Kembali Dibuka 20 Agustus, Menhut Imbau Wisatawan Tak Pakai Api Unggun dan Sembarangan Merokok

Kepala Pelaksana BPBD Jatim tersebut menambahkan, keterbatasan jangkauan pemantauan lapangan menjadi salah satu perhatian dalam upaya menekan risiko kebakaran hutan dan lahan di kawasan Bromo ke depan.

Karena itu, pemanfaatan teknologi seperti SiPongi perlu didukung dengan verifikasi lapangan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar setiap indikasi titik api dapat segera diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. (URF)