INDOUPTODATE.ID – Pemerintah terus mempercepat pembangunan ekosistem hidrogen nasional sebagai bagian dari strategi transisi energi dan upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sedikitnya terdapat 93 proyek pengembangan hidrogen yang tengah berjalan di berbagai daerah dengan total nilai investasi mencapai Rp32 triliun.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan seluruh proyek tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun industri hidrogen nasional yang berkelanjutan.
“Kami saat ini punya 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia. Proyek-proyek ini melahirkan Rp32 triliun investasi yang akan kita kawal,” ujar Eniya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Eniya, pengembangan hidrogen merupakan tindak lanjut arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mendukung program dedieselisasi, yakni mengurangi ketergantungan pembangkit listrik berbahan bakar diesel, khususnya di wilayah terpencil dan kepulauan.
Salah satu proyek strategis sedang dikembangkan di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Proyek tersebut ditargetkan memasuki tahap commercial operation date (COD) pada 2028. Selain itu, pemerintah bersama PT PLN (Persero) juga mengembangkan proyek serupa di Pulau Rengit.
Melalui proyek tersebut, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dipadukan dengan teknologi hidrogen sebagai media penyimpanan energi. Skema ini diharapkan mampu menghadirkan pasokan listrik yang lebih stabil sekaligus mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di daerah yang belum terjangkau jaringan listrik besar.
Tidak hanya untuk sektor kelistrikan, pemanfaatan hidrogen juga mulai dikembangkan pada sektor industri energi. PT Pertamina, lanjut Eniya, telah menginisiasi produksi hidrogen berbasis energi panas bumi (geotermal) di Ulubelu, Lampung.
Menurut Kementerian ESDM, pengembangan hidrogen memiliki potensi besar dalam meningkatkan ketahanan energi nasional. Saat ini indeks ketahanan energi Indonesia diperkirakan berada pada level 7 dari skala 10. Jika pemanfaatan hidrogen semakin luas, indeks tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 8 dari 10.
“Melalui hidrogen, kami ingin menggali sumber energi dari kekuatan kita sendiri, tidak bergantung kepada pihak lain,” kata Eniya.
Bus Hidrogen Jadi Proyek Percontohan
Sebagai bagian dari pengembangan ekosistem hidrogen, pemerintah juga meluncurkan Pilot Bus Hydrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF), yakni armada bus milik Perum DAMRI yang telah dimodifikasi untuk menggunakan kombinasi bahan bakar solar dan hidrogen.
Program percontohan ini menjadi langkah awal menuju komersialisasi kendaraan berbahan bakar hidrogen di Indonesia. Selain mampu mengurangi konsumsi solar, teknologi tersebut juga diharapkan menekan emisi gas buang dan mempercepat penerapan transportasi rendah karbon.
Ke depan, pemanfaatan hidrogen tidak hanya akan diterapkan pada transportasi massal. Pemerintah juga membuka peluang penggunaan teknologi ini pada mobil penumpang, forklift, drone, hingga kompor berbahan bakar hidrogen.
Meski demikian, Eniya menegaskan pembangunan industri hidrogen membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, perguruan tinggi, lembaga riset, serta mitra internasional.
Menurutnya, sinergi berbagai pihak menjadi kunci agar investasi yang telah mencapai Rp32 triliun dapat terus berkembang hingga memasuki tahap komersial dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.
Dengan puluhan proyek yang tengah berjalan, pemerintah berharap hidrogen tidak hanya menjadi bagian dari agenda transisi menuju energi bersih, tetapi juga berkembang sebagai industri baru yang mampu meningkatkan ketahanan energi, mengurangi emisi karbon, sekaligus menarik investasi hijau dalam jangka panjang. (GHM)





