Buka Rakornas 2026, Presiden Prabowo: Jangan Menyerah Lawan Kemiskinan di Tengah Kelimpahan Kekayaan Alam

News321 Dilihat

INDOUPTODATE.ID – Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan tegas kepada seluruh kepala daerah dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026). Presiden menekankan bahwa kemiskinan di Indonesia adalah persoalan yang tidak boleh dianggap wajar.

Soroti Pengelolaan Kekayaan Bangsa
Dalam pidatonya, Kepala Negara menyoroti kontradiksi antara kekayaan alam Indonesia yang melimpah dengan angka kemiskinan yang masih ada. Ia menilai, akar masalah terletak pada kurang optimalnya kepemimpinan dalam menjaga aset negara.

“Kekayaan kita sangat banyak. Tapi terus terang saja, unsur pimpinan di semua tingkat masih kurang dalam tugasnya menjaga dan mengelola kekayaan bangsa Indonesia,” ujar Presiden Prabowo di hadapan para pimpinan daerah.

Presiden menegaskan bahwa tanggung jawab ini tidak hanya berada di pundak eksekutif, tetapi juga melekat pada seluruh elemen elite, termasuk akademisi, politikus, aparat keamanan, hingga lembaga yudikatif.

Seruan Persatuan: Lupakan Sekat Politik
Presiden Prabowo mengajak seluruh pemimpin untuk melakukan pembenahan internal di lingkungan pengambilan keputusan masing-masing. Salah satu poin utama yang ditekankan adalah pentingnya sinergi lintas partai dan mengesampingkan residu konflik politik masa lalu.

“Mari kita bersatu, tidak ada urusan saudara berasal dari partai mana. Jangan kita terlibat dalam sekat-sekat yang timbul karena sejarah,” tegasnya.

Menolak Sikap Pesimistis
Menghadapi tantangan ekonomi, Presiden menolak keras sikap ragu dan pesimistis. Menurutnya, keraguan hanya akan menjadi penghambat nyata dalam upaya menyejahterakan rakyat. Beliau mengibaratkan perjuangan ini sebagai pertandingan yang tidak boleh diakhiri dengan menyerah sebelum berjuang.

“Kita harus bersatu berjuang menghilangkan kemiskinan bangsa Indonesia. Kita tidak boleh menyerah dan terus mempertanyakan apakah kita mampu,” pungkas Kepala Negara.

READ  Penularan HIV/AIDS tidak hanya terjadi pada orang dewasa, namun juga dilaporkan meluas hingga ke kalangan anak-anak dan remaja usia sekolah. Berdasarkan data di Kabupaten Sidoarjo, dari total 7.129 Orang dengan HIV (ODHIV), terdapat ratusan anak dan remaja yang dinyatakan positif HIV. Delta Crisis Center (DCC) mencatat hingga 1 Juli 2026, akumulasi anak dan pelajar di Sidoarjo yang terjangkit HIV telah mencapai 522 ODHIV. “Jumlah anak dan remaja usia sekolah di Sidoarjo hingga per 1 Juli 2026 yang terpapar total ada 522 ODHIV. Rinciannya berdasarkan asumsi, untuk PAUD/TK sekitar 13 anak, usia Sekolah Dasar hingga SMP sederajat sebanyak 44 remaja, dan SMA sederajat hingga mahasiswa diketahui 465 yang positif HIV,” terang Direktur Program Yayasan DCC, Ferry Efendi, SH., MH., Sabtu (18/7/2026). Ferry mengungkapkan, penularan HIV pada anak dan remaja di Sidoarjo disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari penularan ibu ke anak saat kehamilan, penggunaan jarum suntik narkoba, hingga akibat hubungan seks bebas di luar nikah. “HIV itu menular melalui empat cara yakni darah, seks bebas, jarum suntik, dan ASI. Ini harus terus disosialisasikan ke masyarakat agar ada pemahaman, dengan demikian jalur penularan bisa dijauhi,” kata Ferry. Menyikapi fenomena tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Mutu Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Sidoarjo, Dr. Lilik Sulistyowati, S.Pd., M.Pd., menyatakan prihatin dan menegaskan akan segera melakukan koordinasi intensif dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo. “Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo menyatakan keprihatinan mendalam terhadap peserta didik yang terpapar HIV/AIDS. Kami tentunya memberikan perhatian serius terhadap fenomena ini dan segera berkoordinasi dengan pihak Dinkes,” beber Lilis, sapaan akrabnya. Langkah Mitigasi dan Pelatihan Konseling Guru Sebagai langkah nyata, Disdikbud Sidoarjo telah menyiapkan langkah mitigasi melalui penguatan kebijakan pendidikan, termasuk penyusunan langkah implementasi pencegahan penularan HIV/AIDS di semua satuan pendidikan. Hal ini dilakukan agar pelajar maupun tenaga pendidik yang terdampak tidak mendapat diskriminasi dan stigma negatif. Lilis memastikan seluruh lembaga pendidikan akan mendapatkan edukasi dan literasi mengenai pola penularan serta pencegahan HIV/AIDS. Dalam waktu dekat, Disdikbud juga akan menggelar pelatihan kesehatan reproduksi dan manajemen konseling bagi tenaga kependidikan. “Seluruh kepala sekolah, guru kelas, hingga guru BK (Bimbingan Konseling) akan dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan pencegahan penularan HIV/AIDS dan penanganannya. Semua guru akan dilatih terkait manajemen konseling jika mendapati murid ada yang positif HIV,” tegas mantan Kepala SMPN 4 Sidoarjo tersebut. Ke depan, Disdikbud Sidoarjo akan meningkatkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinkes, Dinsos, Kementerian Agama, MUI, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Puskesmas, hingga ormas terkait untuk menekan penambahan kasus di lingkungan sekolah. Meski demikian, terkait kemungkinan adanya kewajiban tes HIV dalam proses seleksi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun 2027, Disdikbud belum bisa memberikan kepastian. "Kami belum bisa menjawab pertanyaan itu karena masih harus dikomunikasikan dengan Dinkes," jawabnya singkat. Benteng Keluarga dan Perlindungan Hak Pendidikan Lilis menekankan bahwa benteng keluarga tetap menjadi faktor pertahanan paling utama dalam menjaga anak agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. Monitoring ketat dan pengawasan melekat harus bermula dari rumah. Bagi pelajar yang dinyatakan positif HIV, Disdikbud Sidoarjo menjamin hak pendidikan mereka secara penuh dan setara. “Anak usia sekolah yang ditemukan positif HIV tetap berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Tidak boleh dibeda-bedakan,” serunya. Terkait adanya temuan salah satu siswi kelas 8 SMP di Sidoarjo yang positif HIV, Lilis menjelaskan bahwa pihaknya bersama instansi terkait tengah melakukan pengawasan dan pendampingan maksimal, termasuk memastikan sang anak rutin mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV). “Sudah menjadi pengawasan Disdikbud, Dinkes, dan Dinsos. Kepada yang bersangkutan terus diberikan pemahaman untuk minum obat ARV rutin agar ketahanan tubuhnya terus terjaga. Alhamdulillah, anak tersebut tidak sampai dikucilkan atau didiskriminasi karena lingkungan sekolah sudah diedukasi bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan,” pungkas Lilis optimis.

Presiden menutup arahannya dengan mengingatkan bahwa dengan potensi besar yang dimiliki, Indonesia memiliki segala modal untuk keluar dari jerat kemiskinan, asalkan para pemimpinnya memiliki tekad yang bulat. (UDQ)